Pernah nonton film action di bioskop, lalu tiba-tiba lihat cuplikan di belakang layar atau video YouTube yang framerate-nya tinggi? Rasanya langsung beda, ya. Ada semacam kesan sinetron atau terlalu mulus sampai malah terasa aneh.
Di sisi lain, kalau kita main game di PC atau konsol, justru semakin tinggi fps (frame per second), semakin nikmat. 60fps, 120fps, bahkan 240fps, semuanya terasa mulus dan enak dilihat.
Loh kok bisa beda? Bukannya sama-sama gambar bergerak? Ternyata ada alasan teknis dan psikologis yang bikin kita punya standar berbeda antara menonton film dan bermain game. Yuk kita kupas satu per satu.
Alasan Utama Film Bertahan di 24fps
Pembuatan film yang dipatok hanya di 24fps tentu tidak dibuat secara sembarangan. Melainkan ada beberapa alasan mengapa nilai tersebut dipakai bahkan masih bertahan hingga saat ini.
1. Warisan Sejarah yang Jadi Standar Emas
Dulu, ketika film masih pakai seluloid, ada dua faktor utama yang bikin 24fps ini jadi patokan, yaitu untuk menghemat biaya dan juga karena faktor kualitas suara.
Pada era film bisu framerate masih belum standar, yakni bisa 16–20 fps. Tapi begitu suara mulai dimasukkan ke film di akhir 1920-an, para insinyur butuh kecepatan yang konsisten supaya suara nggak melambat ataupun melompat (perbedaan antara visual dari pergerakan gambar dengan suara yang keluar).
Nah disini mereka menemukan angka 24 frame per detik sebagai titik manis, yang boleh dibilang cukup cepat untuk menghasilkan gerakan halus, tapi nggak boros pita film.
Dari sanalah kemudian 24fps menjadi standar global. Selama puluhan tahun, mata kita "dididik" secara terus menerus bahwa gerakan dalam film ya seperti itu. Ini yang kemudian kita kenal sebagai cinematic look.
2. Motion Blur yang Alami
Salah satu alasan lain kenapa 24fps terasa enak di film adalah karena adanya motion blur yaitu efek buram saat ada gerakan cepat.
Kamera film tradisional punya waktu eksposur yang cukup lama per frame-nya. Saat ada objek bergerak, hasilnya adalah gambar yang sedikit buram. Nah otak kita menerjemahkan buraman itu sebagai gerakan yang alami dan halus.
Berbeda kalau kita rekam dengan framerate tinggi seperti 60fps tanpa motion blur yang diatur dengan benar. Gerakannya jadi terlalu “crisp” alias tegas. Alih-alih terasa halus, malah keliatan seperti gerakan aktor yang terlalu cepat dan kaku, mirip sinetron atau acara berita.
Kenapa 60fps di Video Terasa Aneh
Lalu pertanyaan berikutnya, kenapa saat pengambilan video yang dilakukan di 60fps atau lebih, hasilnya malah kurang nyaman di mata dan bahkan cenderung aneh. Nah berikut merupakan beberapa alasan dari penyebab ketidaknyamanan itu.
1. Efek Soap Opera yang Tidak Diinginkan
Mungkin kamu pernah dengar istilah "Soap Opera Effect". Istilah ini muncul karena dulu sinetron atau soap opera seringkali direkam pakai video tape dengan framerate 60fps (atau 50fps di Eropa).
Hasilnya? Gambar yang terlalu mulus, detail gerakan yang terlalu jelas, dan pencahayaan yang cenderung datar. Karena kita sudah terbiasa film 24fps yang punya jarak artistik, maka membuat video 60fps malah terasa terlalu nyata. Terlalu mirip dengan kenyataan, sampai-sampai settingan film atau drama jadi keliatan palsu karena kita bisa menangkap setiap detail gerakan yang seharusnya tersamarkan oleh motion blur.
2. Konteks Konten Berpengaruh Besar
Kita juga perlu liat konteksnya. Video 60fps biasanya identik dengan pengambilan gambar untuk kebutuhan seperti liputan berita, acara olahraga, video game, serta biasanya untuk tampilan behind the scene.
Nah karena otak kita sudah punya database bahwa format segitu dipakai untuk konten yang sifatnya realistis atau non-fiksi, begitu format itu muncul di film fiksi, otak langsung bilang, “Ini nggak cocok, kayaknya lagi nonton acara TV biasa.” yang pada akhirnya menimbulkan kesan aneh atau tidak nyaman saat dilihat oleh mata.
Game Semakin Tinggi FPS Semakin Enak
Berbeda dengan film, saat kita bermain game justru framerate yang semakin tinggi malah terasa semakin nikmat untuk dilihat. Bahkan seringkali kita rela menurunkan kualitas grafis hanya untuk mengejar FPS yang tumpah-tumpah.
Nah berikut beberapa alasan mengapa hal ini bisa terjadi.
1. Prinsip Interaktivitas
Jika di film kita merupakan penonton pasif, maka di game kita adalah pemain aktif. Di sini, framerate tinggi bukan cuma soal estetika, tapi soal responsivitas.
Coba bayangkan saat kamu main game first-person shooter dengan 30fps (game tembak-tembakan seperti valorant atau CSGO). Rasanya kayak gerakan sedikit “nge-lag” atau berat. Tapi kalau kamu main di 60fps atau 144fps, setiap gerakan mouse atau stik malah langsung terekam dengan presisi tinggi. Input lag sangat terasa berkurang drastis.
Hal ini bisa terjadi, karena framerate tinggi di game mempengaruhi beberapa hal yaitu gerakan lebih presisi, reaksi lebih cepat, serta mata lebih nyaman karena nggak ada jeda visual yang mengganggu
2. Tidak Ada Standar Realistis di Game
Game juga nggak punya ikatan historis dengan 24fps seperti film. Dunia game bebas menentukan estetikanya sendiri. Bahkan di dalam game yang dimainkan, kita justru mencari kesempurnaan visual berupa kehalusan gerakan, bukan kemiripan dengan sinema.
Makanya nggak ada yang protes kalau game balapan atau fighting game pakai 60fps. Malah kalau cuma 30fps, biasanya bakal dikritik habis-habisan.
3. Motion Blur Bisa Diatur
Di game modern, motion blur justru sering dimatikan oleh pemain karena bisa mengganggu visibilitas. Karena kita yang mengendalikan kamera, kita butuh gambar setajam mungkin untuk melihat detail lawan atau lingkungan sekitar.
Jadi meskipun secara teknis game bisa punya motion blur, kebanyakan gamer lebih suka framerate tinggi tanpa blur karena alasan kepentingan gameplay yang bisa memanjakan mata dan juga reflek yang lebih cepat.
Lalu Apa Masa Depan Framerate di Film?
Beberapa sutradara mulai bereksperimen dengan framerate tinggi. James Cameron dengan Avatar dan Peter Jackson dengan The Hobbit (versi 48fps) pernah mencoba keluar dari pakem 24fps. Namun hasilnya beragam. Banyak penonton yang merasa film The Hobbit versi 48fps justru terlihat terlalu nyata dan malah mengganggu pengalaman menonton.
Sampai sekarang, 24fps masih jadi primadona karena sudah mendarah daging dengan rasa sinema yang paling pas untuk ditonton. Bukan berarti 60fps jelek, tapi penggunaannya harus sesuai konteks.
Kesimpulan
Pada dasarnya nggak ada yang salah antara 24fps atau 60fps. Semua kembali ke fungsi dan tujuan kontennya. Kalau buat konten sinematik yang fokus ke cerita dan mood, 24fps tetap juaranya. Tapi kalau buat konten yang butuh kejelasan gerakan tinggi seperti olahraga atau game, maka 60fps ke atas merupakan pilihan terbaik.
Nah sekarang kalau kamu nonton film dan terasa ada yang aneh, coba deh cek framerate-nya. Siapa tahu itu efek 60fps yang lagi nyoba masuk ke dunia perfilman.


No comments